Nge-Geng:
Enak sih, Tapi…?
Hai, teman-teman? Aku mau tanya nih,
kalian pada punya geng gak? Ya, geng. Istilahnya, perkumpulan anak-anak sebaya
yang biasa menghabiskan waktu bersama. Kalian pasti tahu dong?
Ehhemm.
pasti sebagian dari kalian jawab “iya” kan ?. Ya, it’s oke. Itu jawaban yang
wajar, namanya juga anak muda. Pasti kalian masih suka berekspresi kan? Kalo
gak sama yang seumuran dan satu arah pemikiran, sama siapa lagi?
Eits, tunggu dulu. Yang namanya
geng, ternyata gak hanya menjamur dikalangan kawula muda, lho. Dikalangan
ibu-ibu pun sebenarnya banyak. Karena ketika sebuah geng terbentuk, nyatanya
bukan sekedar seumuran saja yang menjadi dasar utama. Justru, mereka yang satu
arah dalam pola pikir, selera, dan cara bergaya itulah sebenarnya yang lebih
dibutuhkan untuk menuju terbentuknya sebuah geng.
Kenapa mesti begitu?
Ya
iyalah. Karena, mereka-mereka cenderung lebih suka dengan orang-orang yang
memilikki cara pandang yang sama. Logikanya, bayangkanlah ketika mereka
obral-obrol. Sudah pasti, mereka itu akan sangat nyambung secara topik
pembahasan. Sehingga, mereka gak akan merasa kaku untuk menceritakan hal-hal yang
baru sekalipun. Mereka pun akan merasa memilikki kebahagiaan tersendiri, ketika
mereka sudah hang-out ato ngumpul bareng. Bahkan parahnya, tak banyak dari para
personil geng yang kemudian merasa paranoid dan tidak nyaman ketika beberapa
dari mereka harus berpisah dan bertemu dengan orang-orang baru.
Ah, masa’ sih ?
Nah, ini nih yang menjadi titik
berat pembahasan saya.
Kalo kita memilikki geng dengan
anggota yang solid, sudah pasti akan menyenangkan sekali. Kita akan selalu
memilikki orang yang bisa menghibur kita, berada bersama mereka, yang memilikki
waktu untuk mendengarkan cerita-cerita kita dan pastinya mereka memilikki cara
untuk selalu bahagia bersama.
Yang lebih mengasyikan lagi, kita
tidak akan merasa sungkan untuk mengekspresikan gaya kita dihadapan mereka.
Betul gak?
Tapi, apakah kemudian dalam segala
situasi kita akan selalu bersama teman-teman geng kita? Jawabannya pasti
“tidak” kan? Contohnya seperti ini, ketika kita memilikki geng disebuah kelas
ketika kita sekolah. Kemudian suatu hari kita diberi tugas oleh ibu guru untuk
mengerjakannya secara berkelompok. Tapi, anggota kelompoknya sudah ditentukan
oleh ibu guru kita. Nah, apakah kemudian ibu guru akan dengan baik hatinya
memasukkan kita yang satu geng menjadi anggota kelompok untuk mengerjakan
tugasnya ?
Tidak mungkin. So, mau tidak mau kita pasti akan dipencar. Kecuali, kita disuruh menentukan anggota
kelompok kita sendiri. Baru deh, kita akan dengan semangatnya merekrut
anak-anak geng kita agar tetap jadi satu
kelompok. Iya kan ?
Ini nih, masalahnya.
Seharusnya, kalo kita memilikki geng,
pastinya kita harus memilikki kesiapan untuk kita tidak selalu bersama dengan
para personil geng kita. Sebenarnya, tak ada yang salah dengan hasrat kita yang
selalu ingin berkumpul dengan orang-orang yang satu “arah” dengan kita. Karena
dengan begitu, kita tidak akan membutuhkan apa itu adaptasi. Kita hanya tinggal
bersama, jalankan kebutuhan kita, dan tak ada rasa sungkan untuk lakukan apa
saja.
Tapi teman-teman jangan salah.
Disaat-saat tertentu, kita justru sangat membutuhkan apa itu adaptasi. Kita
memerlukan suasana berbeda dengan cara, kita bertemu orang-orang baru. Karena
dengan kita belajar adaptasi, kita akan lebih memilikki kemampuan untuk
menempatkan diri. Terus, kita juga gak perlu merasa paranoid kalau harus
berpisah dengan personil geng kita.
Teman-teman, nge-geng itu sebenarnya
juga banyak manfaatnya, kok. Pertama, kita selalu memilikki orang yang bisa
kita jadikan tempat untuk berbagi. Kedua, biar bagaimanapun kita sebagai
manusia pasti membutuhkan orang-orang
yang bisa disebut sahabat. Yang ketiga, kita ini adalah makhluk sosial. Yang
selalu butuh berkumpul dan diakui eksistensinya. Dan ketiganya itu, akan kita
dapatkan kalo kita punya orang-orang terdekat yang satu arah pemikiran dengan
kita.
jadi, kalo teman-teman punya geng
teman-teman harus selalu siap dengan segala kemungkinan dari luar, yah. Jadilah
anggota geng yang solid terhadap para personil. Tapi, jangan lupa. Bekali diri
kita dengan kemampuan adaptasi yang oke. Supaya, kita tak perlu merasa khawatir
jika dilain kesempatan kita harus dipencar dari sobat-sobat digeng kita. Dan satu
lagi, jangan jadi seseorang yang kaku. Yang kemudian mati gaya kalo sedang
berada dilain suasana.
Terakhir?
teman-teman, nge-geng itu enak, sih. Tapi akan lebih lebih enak dan
menyenangkan kalo kita bisa bergaul dengan semua orang. Pastinya jaringan kita
akan lebih luas, dan kita akan selalu merasa oke dalam setiap suasana yang
(biasanya) tidak terduga-duga.
So, be yourself, be friendly, and be
flexibel.