Minggu, 13 September 2015



Nge-Geng: Enak sih, Tapi…?
            Hai, teman-teman? Aku mau tanya nih, kalian pada punya geng gak? Ya, geng. Istilahnya, perkumpulan anak-anak sebaya yang biasa menghabiskan waktu bersama. Kalian pasti tahu dong?
            Ehhemm.  pasti sebagian dari kalian jawab “iya” kan ?. Ya, it’s oke. Itu jawaban yang wajar, namanya juga anak muda. Pasti kalian masih suka berekspresi kan? Kalo gak sama yang seumuran dan satu arah pemikiran, sama siapa lagi?
            Eits, tunggu dulu. Yang namanya geng, ternyata gak hanya menjamur dikalangan kawula muda, lho. Dikalangan ibu-ibu pun sebenarnya banyak. Karena ketika sebuah geng terbentuk, nyatanya bukan sekedar seumuran saja yang menjadi dasar utama. Justru, mereka yang satu arah dalam pola pikir, selera, dan cara bergaya itulah sebenarnya yang lebih dibutuhkan untuk menuju terbentuknya sebuah geng.
            Kenapa mesti begitu?
Ya iyalah. Karena, mereka-mereka cenderung lebih suka dengan orang-orang yang memilikki cara pandang yang sama. Logikanya, bayangkanlah ketika mereka obral-obrol. Sudah pasti, mereka itu akan sangat nyambung secara topik pembahasan. Sehingga, mereka gak akan merasa kaku untuk menceritakan hal-hal yang baru sekalipun. Mereka pun akan merasa memilikki kebahagiaan tersendiri, ketika mereka sudah hang-out ato ngumpul bareng. Bahkan parahnya, tak banyak dari para personil geng yang kemudian merasa paranoid dan tidak nyaman ketika beberapa dari mereka harus berpisah dan bertemu dengan orang-orang baru.
            Ah, masa’ sih ?
            Nah, ini nih yang menjadi titik berat pembahasan saya.
            Kalo kita memilikki geng dengan anggota yang solid, sudah pasti akan menyenangkan sekali. Kita akan selalu memilikki orang yang bisa menghibur kita, berada bersama mereka, yang memilikki waktu untuk mendengarkan cerita-cerita kita dan pastinya mereka memilikki cara untuk selalu bahagia bersama.
            Yang lebih mengasyikan lagi, kita tidak akan merasa sungkan untuk mengekspresikan gaya kita dihadapan mereka. Betul gak?
            Tapi, apakah kemudian dalam segala situasi kita akan selalu bersama teman-teman geng kita? Jawabannya pasti “tidak” kan? Contohnya seperti ini, ketika kita memilikki geng disebuah kelas ketika kita sekolah. Kemudian suatu hari kita diberi tugas oleh ibu guru untuk mengerjakannya secara berkelompok. Tapi, anggota kelompoknya sudah ditentukan oleh ibu guru kita. Nah, apakah kemudian ibu guru akan dengan baik hatinya memasukkan kita yang satu geng menjadi anggota kelompok untuk mengerjakan tugasnya ?
            Tidak mungkin. So, mau tidak mau kita pasti akan dipencar. Kecuali, kita disuruh menentukan anggota kelompok kita sendiri. Baru deh, kita akan dengan semangatnya merekrut anak-anak geng kita agar  tetap jadi satu kelompok. Iya kan ?
            Ini nih, masalahnya. Seharusnya,  kalo kita memilikki geng, pastinya kita harus memilikki kesiapan untuk kita tidak selalu bersama dengan para personil geng kita. Sebenarnya, tak ada yang salah dengan hasrat kita yang selalu ingin berkumpul dengan orang-orang yang satu “arah” dengan kita. Karena dengan begitu, kita tidak akan membutuhkan apa itu adaptasi. Kita hanya tinggal bersama, jalankan kebutuhan kita, dan tak ada rasa sungkan untuk lakukan apa saja.
            Tapi teman-teman jangan salah. Disaat-saat tertentu, kita justru sangat membutuhkan apa itu adaptasi. Kita memerlukan suasana berbeda dengan cara, kita bertemu orang-orang baru. Karena dengan kita belajar adaptasi, kita akan lebih memilikki kemampuan untuk menempatkan diri. Terus, kita juga gak perlu merasa paranoid kalau harus berpisah dengan personil geng kita.
            Teman-teman, nge-geng itu sebenarnya juga banyak manfaatnya, kok. Pertama, kita selalu memilikki orang yang bisa kita jadikan tempat untuk berbagi. Kedua, biar bagaimanapun kita sebagai manusia pasti  membutuhkan orang-orang yang bisa disebut sahabat. Yang ketiga, kita ini adalah makhluk sosial. Yang selalu butuh berkumpul dan diakui eksistensinya. Dan ketiganya itu, akan kita dapatkan kalo kita punya orang-orang terdekat yang satu arah pemikiran dengan kita.
            jadi, kalo teman-teman punya geng teman-teman harus selalu siap dengan segala kemungkinan dari luar, yah. Jadilah anggota geng yang solid terhadap para personil. Tapi, jangan lupa. Bekali diri kita dengan kemampuan adaptasi yang oke. Supaya, kita tak perlu merasa khawatir jika dilain kesempatan kita harus dipencar dari sobat-sobat digeng kita. Dan satu lagi, jangan jadi seseorang yang kaku. Yang kemudian mati gaya kalo sedang berada dilain suasana.
            Terakhir?  teman-teman, nge-geng itu enak, sih. Tapi akan lebih lebih enak dan menyenangkan kalo kita bisa bergaul dengan semua orang. Pastinya jaringan kita akan lebih luas, dan kita akan selalu merasa oke dalam setiap suasana yang (biasanya) tidak terduga-duga.
            So, be yourself, be friendly, and be flexibel.

Rabu, 09 September 2015



Prestasi atau Sensasi ?
            Wah, teman-teman pasti menyenangkan sekali yah, kalo kita bisa jadi populer. Ups, populer. Apa itu populer?
            Ya, populer atau terkenal pastinya kita dikenal banyak orang. Istilah gampangnya siapapun dan dimanapun banyak orang yang tahu siapakah kita.
            Menyenangkan bukan? Karena kalo jadi terkenal, selain banyak orang yang tahu, kita juga bakal punya banyak keuntungan. Salah satunya, kita punya banyak teman, kesana-sini banyak yang nyapa, dan pastinya, ini yang gak kalah menyenangkan. Punya banyak fans.
            Belum lagi, kita pasti akan selalu terlihat beken disuasana apapun. Yang jelas gak bakal mati gaya deh, jadi orang yang populer.  Tambah lagi tuh, nilai plus-nya.
            Tapi kok artikel ini, kepalanya bertuliskan prestasi atau sensasi, yah? Apa hubungannya dengan terkenal dan populer?
            Eits, tunggu dulu teman-teman…. Kalo menurut hemat saya, dua hal yang akan saya bahas ini, jelas berhubungan banget dengan kehidupan orang-orang yang sudah terkenal. Kenapa? Karena, dalam realitanya kita pasti banyak menjumpai orang-orang yang sudah populer dan kita  sebagai calon komentator yang baik, pasti akan membaca-baca, karena sebab apakah mereka populer? Apa karena sensasi  atau prestasi?
            Sebenarnya sih, tanpa perlu ditanyakan teman-teman pastinya bisa dong menyimpulkan sendiri. Caranya, teman-teman bisa melihat dari gaya dan eksistensi orang terkenal yang teman-teman tuju. Biasanya, ini akan terbaca secara tidak langsung dari cara berpenampilan orang-orang itu (baca: orang terkenal). Memang, cara ber-fashion tidak menjadi tolok ukur utama. Tapi, justru inilah yang akan menjadi cerminan kepribadian kita yang pertama kali terlihat. Karena, you are you wear. So, begini nih gambarannya..
            Orang yang memilikki ketenaran karena prestasi, pasti akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk orang-orang sekitarnya. Dia tak pernah lalai untuk mendedikasikan waktunya demi hal-hal yang bermanfaat. Dalam menjalani hidupnya, dia memegang prinsip hidup yang kuat dan motivasi yang super oke.
            Asal teman-teman tahu, orang-orang ini juga selalu bergaya biasa saja. Dia berusaha menjadi diri sendiri, dan sebisa mungkin memperkuat eksistensinya dengan gaya-gaya yang wajar tapi tetap elegan. Dia pun selalu bisa menempatkan diri disegala situasi, dia gak canggung, dan pastinya selalu bisa beradaptasi.
            Dan, ini dia poin pentingnya. Ketenaran seseorang yang muncul karena prestasi, tak akan mudah surut meski banyak orang lain yang bermunculan. Dia akan tetap ada dipermukaan, walaupun gak sedikit orang-orang lain yang  berusaha menandinginya. Ini pun sudah menjadi rahasia public, kalo orang yang punya segudang prestasi namanya pasti akan selalu dikenang oleh banyak orang dan lama-lama seperti menjadi legenda.
            Teman- teman bisa kok membayangkan siapa saja kira- kira tokoh-tokoh yang ada di jajaran ini. Contohnya, dan masih banyak lagi. Mereka memilikki banyak sekali prestasi bukan? Teman-teman secara langsung atau pun tidak, pasti mengakui kalo nama mereka sudah menjadi legenda, iya kan?
            Kalo gitu bagaimana dengan orang yang terkenal karena sensasi ?
Yap, orang ini memilikki gaya yang biasanya tidak lazim. Tidak lazim disini
Maksudnya, gayanya tidak biasa. Selalu harus ada sesuatu yang beda untuk ditampilkan. Bahkan dengan gaya yang paling aneh sekali pun, mereka akan dengan senang hati untuk tampil ke depan public. Tidak cuma dari segi fashion sih, bisa jadi dari gaya bicaranya, tingkah lakunya di depan umum. Bisa dibayangin kan?
            Maka tak jarang, orang-orang ini memilikki cara hidup yang glamour. Mereka bukan mementingkan kualitas intelektual. Tapi, mereka menonjolkan sesuatu baru yang kemudian menjadi pusat perhatian banyak orang. Meskipun (mungkin) mereka harus bergaya paling aneh bin nyentrik menurut masyarakat. Uniknya, mereka tidak menganggap itu aneh karena justru itulah yang akan menjadikan mereka sebagai trendsetter.
            Hasilnya, mereka akan selalu berusaha mati-matian agar tidak surut. Meski materi sudah banyak yang dihamburkan, mereka tidak akan mempermasalahkan. Yang penting bagi mereka, bagaimana caranya tetap populer dan tidak tersingkir.
            Jadi, orang-orang seperti ini harus mengimbangi gaya hidupnya dengan kantong yang tebal. Kalo tidak, bisa jadi?  Mereka ini akan mudah tersingkir eksistensinya. Ya, mungkin tidak semua seperti itu, sih. Karena ini menurut hemat admin. Gimana kalo menurut teman-teman?
            Mau terkenal pake yang mana, prestasi atau sensasi?